Free Web Hosting by Netfirms
Web Hosting by Netfirms | Free Domain Names by Netfirms

 
Selamat Datang    |    Gorontalo Aktual     |   Provinsi Gorontalo    |    Kota Gorontalo |   Kab. Gorontalo     |     Kab. Boalemo    |    Kab. Pohuwato     |    
Kab. Bonebolango   |    Pendidikan    |   Pariwisata   | Agama, Seni, & Budaya    |    Transportasi |  Layanan Umum & Akomodasi   |    
Kesehatan   |    Istek    |   Dunia Kita   |   Dunia  Islam   |       Indonesiaku   |   Musik Gratis  |  Link Anda    |    | Buku Tamu
Pariwisata

 
Provinsi Gorontalo memiliki beberapa objek wisata yang  menarik untuk dikunjungi dan dinikmati oleh wisatawan baik dari nusantara maupun mancanegara. 

Adapun beberapa objek wisata adalah sebagai berikut.

Benteng Otanaha


 

Foto: Benteng Otanaha di Kelurahan Dembe, 
Kota Selatan, Gorontalo

 
Objek wisata ini terletak di atas bukit di Kelurahan Dembe, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo. Benteng ini dibangun sekitartahun 1522.

Adapun sejarah pembangunan benteng ini adalah sebagai berikut.

Sekitar abad ke-15,dugaan orang bahwa sebagian besar daratan Gorontalo adalah air laut. Ketika itu,Kerajaan Gorontalo di bawah Pemerintahan Raja Ilato, atau Matolodulakiki bersama permaisurinya Tilangohula (1505–1585). Mereka memilik tiga keturunan, yakni Ndoba (wanita),Tiliaya (wanita),dan Naha (pria).Waktu usia remaja,Naha melanglang buana ke negeri seberang,sedangkan Ndoba dan Tiliaya tinggal di wilayah kerajaan.

Suatu ketika sebuah kapal layar Protugis singgah di Pelabuhan Gorontalo Karena kehabisan bahan makanan, pengaruh cuaca buruk, dan gangguan bajak laut. 
 

Mereka menghadap kepada Raja Ilato. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan, bahwa untuk memperkuat pertahanan dan keamanan negeri, akan dibangun atau didirikan tiga buah benteng di atas perbukitan Kelurahan Dembe, Kecamatan Kota Barat yang sekarang ini, yakni pada tahun 1525. 

Ternyata, para nakhoda Portugis hanya memperalat Pasukan Ndoba dan Tiliaya ketika akan mengusir bajak laut yang sering menggangu nelayan di pantai.Seluruh rakyat dan pasukan Ndoba dan Tiliaya yang diperkuat empat Apitalau, bangkit dan mendesak bangsa Portugis untuk segera meninggalkan daratan Gorontalo.Para nakhkoda Portugis langsung meninggalkan Pelabuhan Gorontalo. 

Ndoba dan Tiliaya tampil sebagai dua tokoh wanita pejuang waktu itu langsung mempersiapkan penduduk sekitar untuk menangkis serangan musuh dan kemungkinan perang yang akan terjadi.Pasukan Ndoba dan Tiliaya,diperkuat lagi dengan angkatan laut yang dipimpin oleh para Apitalau atau ‘kapten laut’, yakni Apitalau Lakoro, Pitalau Lagona, Apitalau Lakadjo, dan Apitalau Djailani.

Sekitar tahun 1585, Naha menemukan kembali ketiga benteng tersebut. Ia memperistri seorang wanita bernama Ohihiya.Dari pasangan suami istri ini lahirlah dua putra, yakni Paha (Pahu) dan Limonu.Pada waktu  itu terjadi perang melawan Hemuto atau pemimpin golongan transmigran melalui jalur utara. Naha dan Paha gugur melawan Hemuto.

Limonu menuntut balas atas kematian ayah dan kakaknya. Naha, Ohihiya, Paha, dan Limonu telah memanfaatkan ketiga benteng tersebut sebagai pusat kekuatan pertahanan. Dengan latar belakang peristiwa di atas,maka ketiga benteng dimaksud telah diabadikan dengan nama sebagai berikut. Pertama, Otanaha. 
Ota artinya benteng. Naha adalah orang yang menemukan benteng tersebut. Otanaha berarti benteng yang ditemukan oleh Naha. 

Kedua,Otahiya. Ota artinya benteng. Hiya akronim dari kata Ohihiya, istri Naha Otahiya,  berarti benteng milik Ohihiya. Ketiga Ulupahu.Ulu akronim dari kata Uwole,artinya milik dari Pahu adalah putera Naha.Ulupahu berarti benteng milik Pahu Putra Naha. 

Benteng Otanaha, Otahiya, dan Ulupahu dibangun sekitar tahun1522 atas prakarsa Raja Ilato dan para nakhoda Portugis.

Pantai Indah Lahilote


Foto:  Objek Wisata Pantai Lahilote di 
Kelurahan Pohe, Kota Selatan, Gorontalo

Pantai Indah Lahilote merupakan objek wisata pantai yang terletak di Pantai Lahilote Kelurahan Pohe, Kecamatan Kota Selatan, kurang lebih 6 km dari pusat Kota Gorontalo. Di pantai ini  terdapat sebuah batu berbentuk tapak kaki, yakni dimitoskan sebagai tapak kaki seorang pengembara muda Gorontalo yang bernama Lahilote. Kata ini berasal dari kata botu yang bererarti batu, liyodu berarti tapak kaki. Jadi, botu liyodu adalah batu berbentuk tapak kaki. 

Konon menurut  mitos Gorontalo karena kasmaran terhadap  seorang bidadari yang turun dari kayangan yang bernama Boyilode Hulawa, Lahilote nekad dan berhasil mencuri sayap yang berbentuk selendang dari sang putri. Mereka sempat menikah. 

Namun sayang,  Lahilote ditinggalkan oleh sang putri yang kembali ke kayangan. Untuk kedua kalinya Lahilote nekad menyusuli Putri Boyilode Hulawa ke kayangan.Dengan bantuan lentikan ujung rotan sakti, yang disebut Hutiya Mala, Lahilote berhasil menyusuri negeri kayangan. Setiba di negeri kayangan, Lahilote menjadi  sangat binggung karena di sana ia mendapati ada tujuh bidadari yang memiliki persamaan wajah dan semuanya mengaku bernama Boyilode Hulawa. Ia sukar menentukan yang mana Boyilode Hulawa yang asli, istrinya.  Berkat bantuan seekor kunang–kunang yang hinggap di sanggul dari salah satu dari ketujuh bidadari itu, maka tahulah Lahilote bahwa dialah sang putri  yang dicarinya. Akan tetapi,  malang nasib Lahilote karena berdasarkan undang–undang di negeri kayangan yang menyatakan bahwa siapa saja yang menjadi tua dan rambutnya beruban, ia harus dikembalikan ke dunia, karena kayangan bukan tempat dari manusia yang memiliki proses ketuaan, maka  dengan terpaksa sang putri melepaskan suaminya, Lahilote, turun ke bumi  dengan menggunakan rambut uban yang dirajut menjadi tali. Namun, di tengah perjalanan ke bumi, kemalangan menimpa Lahilote karena tali uban yang digunakannya putus, dan jatuhlah ia dengan deras ke bumi dalam posisi berdiri. Kaki kanannya jatuh di pantai Pohe, Kota Gorontalo, sedangkan kaki kirinya jatuh pantai Kwandang di Kabupaten Gorontalo. 

Lagenda Lahilote ini sampai sekarang masih dituturkan oleh masyarakat sebagai cerita rakyat bagi generasi selanjutnya. Pantai Lahilote tetap menjadi objek wisata bagi masyarakat Gorontalo dan wisatawan mancanegara. 


Makam Keramat  “Ju Panggola”


Foto: Makam Ju Panggola di 
Kelurahan Lekobalo Kota Selatan, Gorontalo

Makam Keramat Ju Panggola terletak di Kecamatan Kota Barat, di Kelurahan Lekobalo, kurang lebih 7 km dari Pusat Kota Gorontalo. Makam keramat ini terletak di atas bukit pada ketinggian 50 meter dari jalan raya. Dari atas bukit ini kita dapat melihat Danau Limboto yang luas, dengan airnya yang makin kritis, dari kedalaman 32 meter kini tinggal 5 hingga 7 meter. 

Ju Panggola adalah sebuah gelar atau julukan. Ju berarti ‘ya’, sedangkan Panggola berati ‘tua’. Jadi, Ju Panggola artinya Ya Pak Tua. Dalam sejarah nama Pak Tua tersebut adalah Ilato, yang artinya kilat. Karena kesaktian dan sifat keramatnya Ilato, mempunyai kemampuan untuk menghilang dan muncul jika negeri dalam keadaan gawat. 

Pak Tua atau “Ju Panggola” gelar ini muncul dari masyarakat karena setiap beliau tampil, dengan profil Kakek Tua yang mengenakan jubah putih. Ia mempunyai jenggot putih yang sangat panjang yang melewati lutut. Ia juga dijuluki sebagai “Awuliya” karena beliau adalah penyebar agama Islam sejak tahun 1400, sebelum para Wali Songo berada di Pulau Jawa. 

Aliran yang ditinggalkan oleh Ju Panggola adalah ilmu putih, yang diterapkan lewat “langga” atau ilmu bela diri dalam dunia persilatan. Beliau tidak secara langsung melatih para muridnya, melainkan hanya meneteskan air di mata sang murid,  dan secara otomatis para muridnya memperoleh jurus-jurus persilatan secara spontan, baik melalui mimpi maupun melalui gerakan refleks.

Makam tersebut memiliki banyak keajaiban,antara lain, tanah di atas bukit itu berbau harum. Menurut sejarah bahwa bukit tersebut pernah dihuni oleh beliau sebagai tempat bermunajat ke hadirat Alla swt.

Keajaiban tersebut masih dapat disaksikan hingga sekarang ini. Di makam itu setiap penziarah datang dan mengambil segengaman tanah di seputar makam, dan anehnya tanah galian  tersebut tidak pernah menjadi lubang yang dalam padahal ribuan manusia mengambil tanah tersebut sebagai azimat. 

Makam Ju Panggola  setiap hari mendapat kunjungan dari para wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Sebagian dari mereka melaksanakan salat di Masjid Ju Panggola, sambil berdoa dan memohonkan berkah penyebuhan dari sakit yang diderita mereka.

Monumen Pahlawan Nani Wartabone

Foto: Monumen Pahlawan Nasional Nani Wartabone

 
Monumen Nani Wartabone dibangun sekitar tahun 1987 pada masa pemerintahan  Drs. A. Nadjamudin, Walikotamadya Gorontalo. Monumen ini terletak tepat di depan rumah Dinas Gubernur Provinsi Gorontalo saat ini .

Nani Wartabone adalah putra asli Daerah Gorontalo, yang telah banyak mengabdikan diri sebagai pejuang bangsa dan negara, khususnya dalam gerakan patriotisme melawan penjajahan Belanda. 

Gerakan patriotisme Rakyat Gorontalo di bawah pimpinan Nani Wartabone, dengan menggunakan taktik dan strategi perjuangan mampu mengusir bangsa penjajah, Belanda, dari Bumi Kerawang, Gorontalo. Perjuangan rakyat Gorontalo yang patriotik mencapai klimasnya pada tanggal 23 Januari 1942, menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang mampu memproklamasikan kemerdekaan RI dari Bumi Gorontalo, lepas dari cengkeraman penjajahan Belanda.

Jiwa patriotisme yang tumbuh dan terpelihara sejak abad ke-17, berpuncak pada patriotisme 23 Januari 1942, merupakan batu-batu kerikil yang dipersembahkan rakyat Gorontalo dalam batas-batas kemampuannya dalam pembangunan Republik Indonesia yang lahir pada tanggal 17 Agustus 1945. 

Jiwa patriotik tersebut muncul dan tumbuh terus pada masa kekuasaan Jepang, serta terus dibina dan diwariskan kepada generasi sekarang.

Monemen Nani Wartabone dibangun untuk menghomati jasa Pahlawanan Perintis Kemerdekaan Nani Wartabone, asal Gorontalo, dan mengingatkan masyarakat Gorontalo akan peristiwa bersejarah 23 Januari 1942, dengan harapan hasil perjuangan itu akan tumbuh dalam jiwa generasi sesudahnya untuk membangun Indonesia tercinta ini dalam mengisi kemerdekaan. 

Danau Limboto


 

Foto: Pemandangan Seputar Danau Limboto
Kabupaten Gorontalo

Di Danau Limboto yang terletak di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, yang saat ini memiliki kedalaman antara 5 hingga 8 meter, para pengujung atau wisatawan dapat menikmati berbagai kegiatan, antara lain, memancing, lomba berperahu, atau berenang. Selain itu, mereka juga dapat menikmati ikan bakar segar yang disediakan oleh mayarakat nelayan setempat dengan harga yang relatif murah.

Danau Limboto dari tahun ke tahun luas dan tingkat kedalamannya terus berkurang. Luas Danau Limboto pada tahun 1999 berkisar antara 1.900-3.000 ha, dengan kedalaman 2-4 meter (Cabang Dinas Perikanan Kabupaten Gorontalo, 2000). Pada tahun 1932, luas perairan ini mencapai 7.000 ha, dengan kedalaman maksimum 30 m (Sarnita, 1996). sotrof.

Dengan demikian, telah terjadi pendangkalan yang cukup cepat di perairan ini yang mencapai 38,80 cm/tahun. Penggundulan hutan di sekitar perairan tersebut tampaknya merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya pendangkalan yang cukup tinggi.Data kualitas air selama 1998-1999 menunjukkan bahwa suhu air permukaan Danau Limboto pada siang hari berkisar antara 29-32,50o C, sedangkan kecerahannya ("transparency") 35-65 cm. Pada siang hari, kadar oksigen dalam air permukaan dan dalam lapisan 1 meter di bawah permukaan berturut-turut adalah 6-10,30 mg/l dan 4-7,10 mg/l. Kandungan CO 2 pada lapisan permukaan berkisar antara 0-5 mg/l, pH perairan 8,30-8,80 dan total alkalinitasnya ("alkalinity") 55-85 mg CaCO3/l. Kadar senyawa fosfat berkisar antara 0,02-0,07 mg/l, sedang kandungan nitratnya sangat kecil (mendekati 0 mg/l), tetapi kadar nitritnya mencapai 0,30-0,90 mg/l, dan kadar bahan organiknya 30-37 mg/l. Berdasarkan kandungan fosfat, menurut klasifikasi Parma (1980), Danau Limboto termasuk perperairan yang mesotrof.
Pulau Saronde
Objek wisata ini terletak di Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo, dan dapat dicapai dengan perahu dari Kwandang. 
Pemandian Air Hangat  Lombongo
Objek wisata Pemandian Air Panas Lombongo atau Lombongo Hot Springs terletak di Desa Duwano, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Gorontalo, kurang lebih 17 km dari Kota Gorontalo (ibu kota provinsi). Di lokasi ini para pengunjung dapat menikmati perbagai atraksi kesenian yang sering dilaksanakan di tempat ini. Di samping itu, mereka dapat menikmati hangat air di tempat pemandian (kolam renang) Lombongo yang juga sangat bermanfat untuk menyembuhkan penyakit kulit. Tempat ini juga menarik untuk relaks dan melepaskan segala bentuk kelelahan saat sibuk bekerja.

Kolam renang  yang berisi air hangat ini berukuran 500 m2 dengan kedalaman 1 hingga 2 meter.


Pemandian Air Hangat Pentadio

Di Desa Pentadio, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo juga terdapat objek wisata berupa tempat permandian air hangat. Di lokasi tersebut para pengunjung dapat menyaksikan  semburan mata air yang cukup panas sehingga  dapat digunakan untuk merebus telur hingga matang. Mereka dapat menikmati siraman air dari sumber mata air yang cukup hangat yang sangat bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit kulit.


Benteng Oranye 

Objek wisata Benteng Oranye (Orange Fortress) merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang terdapat di Kecamatan Kwandang, kurang lebih 61 km dari Kota Gorontalo. Benteng ini dibangun oleh bangsa Portugis pada abad ke-17. Benteng ini berukuran panjang 40 meter, lebar 32 meter, dan tinggi 5 meter (40x32x5 meter).


Objek Wisata Lain

Di samping yang  telah disebutkan di atas, Provinsi Gorontalo memiliki beberapa objek wisata yang lain yang cukup menarik dan perlu dikembangkan, antara lain, Goa Ular di Kecamatan Batudaa (kira-kira 28 km dari Kota Gorontalo),  Danau Perintis di Kecamatan Suwawa  (18 km dari Kota Gorontalo), Taman Laut Pulau Limba di Kecamatan Paguyaman, Pulau Bitila di Kecamatan Paguat, Pantai Pasir Putih di Kecamatan Tilamuta, Air Terjun di Kecamatan Tilamuta, Cagar Alam Panua di Kelurahan Libuo, Kota Gorontalo, dan Pulau Asiangi di Kecamatan Tilamuta.
Berita dunia pariwisata di Provinsi Gorontalo
Pesona Keindahan Pantai Boalemo
Kabupaten Boalemo sebagai daerah pemekaran dari wilayah Kabupaten Gorontalo, berada di pesisir Teluk Tomini. Tidak heran kalau kelima kecamatan yang ada di daerah itu memiliki panorama pantai yang cukup indah. Namun dari sekian banyak pantai itu, baru Pantai Bolihutuo yang secara resmi dijadikan tempat wisata.

Pantai Bolihutuo terdapat di Kecamatan Tilamuta, yang diresmikan dengan nama Objek Wisata Boalemo Indah. Untuk menuju lokasi pantai ini, wisatawan harus menempuh perjalanan melalui jalan trans Sulawesi, yang jaraknya sekitar 130 km dari pusat Kota Gorontalo.

Keindahan Pantai Bolihutuo, ibarat mutiara kepariwisataan yang terhampar di pesisir Teluk Tomini. Gulungan ombak yang berkejaran, terlihat memutih, dan menghias samudra yang membiru. Hamparan pasir putih yang menyelimuti kawasan sekitarnya, serta rindangnya puluhan pohon pinus menambah indahnya suasana.

'Ratusan Ribu Kelelawar'
Walupun baru terbentuk tahun 1999 yang lalu, namun Pemda Kabupaten Boalemo terus berupaya mempromosikan potensi wisata yang dimilikinya. Saat ini di kawasan Pantai Bolihutuo telah dibuka Pusat Informasi Wisata (Tourism Information Center-ITC). Di tempat itu wisatawan dapat mengetahui beragam potensi wisata di Kabupaten Boalemo.

Selain Pantai Bolihutuo, di Kecamatan Tilamuta terdapat gugusan pulau berpasir putih yang berada di tengah laut. Gugusan pulau di perairan Desa Lamu itu, akan dibuka menjadi kawasan khusus bagi turis asing yang ingin berjemur. Pulau lainnya yang cukup unik adalah Pulau Lahumbo atau Pulau Paniki. Keunikan pulau ini adalah terdapatnya ratusan ribu kelelawar, yang menjadikan pulau itu nampak hitam di kejauhan.

Tempat yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi adalah Taman Laut Pulau Batila. Taman Laut yang ada di Kecamatan Paguat itu, memiliki keindahan terumbu karang dan beragam biota laut. Menurut penelitian para ahli pariwisata, keindahan Taman Laut Pulau Bitila dua kali lebih indah daripada keindahan Taman Laut Bunaken. Karena itu, Pemda setempat bekerjasama dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Gorontalo, dan LSM Bina Wisata, telah membuka jalur perjalanan wisata Bunaken - Boalemo - Togian. Rute wisata ini dimaksudkan untuk lebih memperkenalkan potensi wisata Boalemo kepada wisatawan.

Di samping potensi wisata alam, di wilayah Boalemo terdapat aset wisata budaya yang cukup berprospek untuk dipromosikan. Aset wisata itu adalah perkampungan Suku Bajo di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato. Kehidupan suku Bajo yang mendiami rumah-rumah terapung di atas air, sering menjadi perhatian wisatawan.

Tempat lain yang pantas dijadikan lokasi wisata budaya adalah Desa Bongo di Kecamatan Paguyaman. Desa tersebut merupakan  "Miniatur" Pulau Jawa dan Bali, karena dihuni oleh transmigran dari kedua pulau itu. Desa Bongo dapat dikembangkan sebagai Desa Wisata (Village Tourism), yaitu suatu wilayah yang menawarkan nuansa pedesaan secara menyeluruh, mencakup kehidupan sosial budaya, adat istiadat, arsitektur, struktur ruang, dan akomodasi. Namun, disayangkan Pemda setempat belum memanfaatkan potensi desa tersebut. Padahal kehidupan masyarakatnya yang tetap mempertahankan adat-istiadat daerah asalnya, adalah garansi yang sangat menjanjikan.

Jika diamati, posisi Kabupaten Boalemo yang terletak di pesisir Teluk Tomini, dan berbatasan langsung dengan Provinsi Sulawesi Tengah, sangat memungkinkan bagi pengembangan pariwisata. Bahkan sejumlah pakar pariwisata telah memprediksi bahwa kelak sektor pariwisata Boalemo akan lebih maju di Gorontalo/

Namun terlepas dari semua itu, upaya Pemda Boalemo untuk mengelola potensi wisata yang dimilikinya tetap diutamakan. Yang tidak kalah penting adalah menggaet investor yang bersedia menjadi mitra kerja, dalam mengelola potensi wisata daerah itu. Hanya dengan cara inilah berbagai obsesi dan prediksi sejumlah pakar pariwisata, akan dapat dibuktikan. (Sofyan Butolo)

Sumber: Suara Karya Online.
Taman Nasional Dumoga Bone
Taman ini Terletak di Kabupaten Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara) dan Kabupaten Gorontalo (Gorontalo), dengan ketinggian antara 50-2.000 meter dari permukaan laut. Ekosistem dan formasi hutan terdiri dari hutan hujan pegunungan, hutan hujan dataran rendah, hutan lembap, dan hutan lumut.

Mengingat taman nasional ini terletak antara kawasan-kawasan Zoogeografis Asia Timur dan Australia, Sulawesi telah membiakkan fauna dengan persentase yang tinggi daripada species endemik, terutama mamalia (65%) dan burung (25%).

Khas endemik / langka

Anoa (bubalus Depressicornis), Kuskus (Phalanger Ursinus), Kera Sulawesi (Macaca Nigra Nigrecens), (Babyrousa babirusa), Musang Sulawesi (Macrogalidia Musschenbroeki), Singapuar (Tarsius Spectrum), Burung Maleo (Macrocephalon Maleo), Kelelawar Badak (Rhinolapas sp), Ular Bakau (Biogedendronphila).


Geliat 'Sunset' Pantai Leato Gorontalo yang Menawan, 
Tetapi Belum Dikelola Secara Profesional


Foto: Keindahan Pantai Leato, Gorontalo, 
saat menanti sang Surya terbenam.

Kamis, 29 Maret 2001
Gorontalo--Suara Karya Online--Gemulung ombak bergerak perlahan menghempas tepian pantai. Sejauh mata memandang terhampar samudra dengan keelokan alamnya. Di ufuk barat mentari mulai memasuki batas cakrawala. Langit dan air laut memantulkan warna kemerah-merahan. Begitulah pesona sunset di Pantai Leato.

Suasana menakjubkan di kala senja itu sangat menggugah hati manusia akan kebesaran Sang Pencipta. Apabila seorang fotograper mampu mengabadikan momen itu dengan baik, tentu foto yang dihasilkan akan dikagumi orang. 

Tetapi kalau sunset itu disaksikan secara langsung, tentu saja kekaguman itu akan melebihi apa yang terlihat dalam foto.

Pantai Leato terdapat di Kelurahan Leato, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Untuk mencapai lokasi pantai itu pengunjung hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit, dengan jarak tempuh sekitar 5 km dari pusat kota. Perjalanan menuju ke sana dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi, atau menggunakan angkot jurusan Leato dengan tarif Rp 1.000 per orang.

Barangkali memang sudah ditakdirkan Sang Pencipta, jika di bagian selatan Teluk Tomini ini terdapat sejumlah pantai yang indah. Dari pantai Leato hingga ke Kecamatan Bonepantai (Kabupaten Gorontalo) yang berbatasan dengan Kabupaten Bolaang Mongondow, kita dapat menjumpai beberapa pantai dengan pesona yang sangat memikat.

Akan tetapi, jika dibandingkan dengan pantai lainnya, maka Pantai Leato memiliki keistimewaan tersendiri. Kalau pantai lainnya berada di bawah jurang atau jauh dari jalan, tidak demikian dengan Pantai Leato. Pantai ini terdapat di tepi jalan dengan hamparan pasir putihnya. Letak pantai ini pun cukup strategis karena berdekatan dengan Pelabuhan Feri dan Pelabuhan Gorontalo. Hal ini sangat mendukung untuk pengembangannya.

Menikmati pemandangan alam dan keelokan samudra di Pantai Leato, mengajak kita menyatu dengan alam. Kelembutan ombaknya memungkinkan pengunjung dapat berjalan dengan tenang di tepian pantai itu. Terkadang sejumlah perahu nelayan merapat ke pinggiran pantai. Para pengunjung dapat membeli beberapa ekor ikan, dari nelayan yang ada di atas perahu. Inilah salah satu dari sekian banyak suasana yang ditawarkan untuk wisatawan.

Sangat disayangkan, hingga kini pantai tersebut belum dikelola secara profesional. Akibatnya, wisatawan yang datang ke tempat itu belum bisa menikmati secara optimal keindahan panoramanya. Di sekitar pantai masih terlihat onggokan pasir dan sampah yang terhempas gulungan ombak. Hal ini tentu mengurangi keindahan pantai tersebut.

Padahal dengan berlakunya otonomi daerah, setiap daerah memiliki kewenangan untuk mengelola potensi daerahnya. Pemerintah daerah dapat merangkul pihak swasta yang siap menjadi investor untuk mengelola dan mengembangkan Pantai tersebut. Apabila pantai tersebut dikelola dengan baik, pada gilirannya akan memberi kontribusi bagi pembangunan di Kota Gorontalo. (Sofyan Butolo).